Mengenal Filosofi Ketupat yang Selalu Hadir Saat Tibanya Lebaran

7 April 2024, 08:30 WIB
Ilustrasi sajian ketupat saat hari raya lebaran /Istimewa

PRIANGANTIMURNEWS - Sudah menjadi tradisi yang turun-temurun saat tibanya Hari Raya Idul Fitri, hampir di seluruh keluarga Muslim Indonesia selalu tersedia makanan ketupat.

Ketupat atau kupat adalah makanan yang berasal dari bahan dasar beras yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda atau janur.

Hidangan ini akan selalu tersaji di atas meja makan saat Hari Lebaran tiba. Ternyata hidangan ketupat ini bukan hanya hidangan biasa. Ada nilai filosofi dari makanan ini.

Baca Juga: Daftar Masjid Di Kabupaten Tasikmalaya Yang Akan Menggelar Sholat Idul Fitri 1445 H Bagi Warga Muhammadiyah

Dilansir priangantimurnews.pikiran-rakyat dari halaman diskominfo Kalimantan Timur, berikut beberapa filosofi dari makanan ketupat ini.

Asal mula makanan ketupat ini berawal dari penyebaran agama Islam di pulau Jawa oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga sendiri merupakan salah satu tokoh Wali Songo yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.

Dalam dakwahnya, Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya dan filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai keislaman.

Dimana membaurkan pengaruh budaya Hindu pada nilai keislaman, sehingga ada akulturasi budaya antara keduanya. Akulturasi adalah percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan mempengaruhi.

Baca Juga: Idul Fitri, Momentum Kembalinya Jati Diri Manusia Sebagai Bangsa Beradab!

Sunan Kalijaga memperkenalkan Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Sebagai informasi, Bakda Kupat merupakan budaya yang dimulai satu minggu setelah lebaran. Pada hari itu, banyak masyarakat yang menganyam dan mempersiapkan hidangan ketupat.

Sunan Kalijaga membagikan ketupat sebagai sarana untuk berdakwah menyebarkan agama Islam. Ini menjadi pendekatan budaya oleh Sunan Kalijaga untuk mengajak orang Jawa untuk memeluk agama Islam pada kala itu.

Secara perlahan, tradisi Ketupat ini menjadi melekat di Indonesia sebagai hidangan Lebaran.

Ketupat sendiri berasal dari kata “Kupat” dan memiliki arti ganda yakni ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan). Empat tindakan yang dimaksudkan antara lain: luberan (melimpahi), leburan (melebur dosa), lebaran (pintu ampunan terbuka lebar) dan laburan (menyucikan diri).

Baca Juga: Rieke Diah Pitaloka Minta Yang Terlibat Korupsi Harvey Moeis Segera Ditangkap, Ini 4 Faktanya!

Selanjutnya, isian beras pada Ketupat dilambangkan sebagai hawa nafsu. Daun kelapa muda atau janur merupakan singkatan dari jatining nur atau cahaya sejati (hati nurani). Jika digabungkan, Ketupat memiliki arti manusia yang menahan nafsu dengan mengikuti hati nurani.

Seiring perkembangan zaman, makanan ketupat juga mengalami perubahan dalam cara penyajiannya. Ketupat bisa disantap dengan aneka kuah.

Saat Lebaran tiba, ketupat sering dijadikan makanan pengganti nasi. Ada yang disajikan dengan aneka macam sayuran, gulai dengan daging ayam, kambing atau daging sapi. Hidangan ketupat juga sering kali ditambah kerupuk atau emping dalam penyajiannya.

Baca Juga: Arus Lalin Tol Jakarta - Cikampek Mulai Didominasi Bus AKAP Pada H-5 Lebaran

Saat Lebaran, ketupat juga biasa dijadikan bingkisan atau buah tangan kepada tetangga atau kerabat saat berkunjung untuk silaturahmi.

Itulah beberapa filosofi dari makanan ketupat yang selalu hadir saat tibanya Hari Raya Idul Fitri.***

Editor: Rahmawati Huda

Tags

Terkini

Terpopuler